PEKANBARU – Limbah dapur dan sampah organik rumah tangga di Kelurahan Rintis, Kecamatan Lima Puluh, Kota Pekanbaru, kini tidak lagi berakhir di tempat pembuangan. Melalui penerapan konsep ekonomi sirkular (circular economy), limbah tersebut diolah menjadi pupuk kompos, pupuk organik cair, hingga mendukung lahirnya berbagai produk UMKM berbasis hasil urban farming.
Inovasi tersebut dikembangkan melalui kolaborasi mahasiswa Kukerta FISIP Berdampak untuk Negeri (FBN) Universitas Riau bersama Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kelurahan Rintis. Program dipusatkan di Kebun Aku Hatinya PKK yang mengintegrasikan pertanian, peternakan, dan budidaya ikan lele dalam satu kawasan.
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) FBN Universitas Riau, Frini Karina Andini, S.AB., M.AB., mengatakan penerapan ekonomi sirkular menjadi solusi untuk memanfaatkan limbah organik agar memiliki nilai guna sekaligus nilai ekonomi bagi masyarakat.
"Penerapan ekonomi sirkular bukan hanya mengurangi sampah, tetapi juga mendorong masyarakat memanfaatkan limbah menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai ekonomi. Konsep ini diharapkan dapat diterapkan secara berkelanjutan di tingkat rumah tangga maupun komunitas," ujarnya.
Program diawali dengan edukasi dan praktik pembuatan pupuk kompos padat serta pupuk organik cair (POC) menggunakan sampah organik rumah tangga, limbah dapur, dan sisa tanaman. Pupuk yang dihasilkan kemudian dimanfaatkan kembali untuk menyuburkan tanaman di Kebun Aku Hatinya PKK sehingga membentuk sistem pertanian berkelanjutan dengan konsep zero waste loop.
Selain mengurangi volume sampah, pemanfaatan komposter juga membantu masyarakat menghemat biaya pemupukan dan membuka peluang usaha baru melalui penjualan pupuk organik.
Implementasi ekonomi sirkular kemudian dilanjutkan dengan hilirisasi hasil panen menjadi produk olahan yang memiliki nilai tambah. Ubi jalar hasil kebun diolah menjadi stik ubi, melengkapi produk UMKM bermerek KaRisMa (Karya Rintis Bersama) yang sebelumnya telah memasarkan jamu herbal dan keripik pisang. Inovasi lainnya juga melahirkan produk stik sawi dan stik bayam merah.
Ketua Kelompok Kukerta FBN Kelurahan Rintis berharap inovasi yang telah dirintis bersama TP-PKK dapat terus berkembang meski program Kukerta telah berakhir.
"Semoga program yang dilaksanakan bersama TP-PKK Rintis ini tidak hanya berhenti di sini saja, tetapi dapat terus berlanjut dan memberikan dampak yang nyata bagi masyarakat," katanya.
Program tersebut mendapat dukungan dari Plt Camat Lima Puluh Tengku Renny, S.Pd., Lurah Rintis Malindo Irjayanto Pratama, S.STP., serta Ketua TP-PKK Kelurahan Rintis Nur Syamsiah Lubis Malindo, S.STP.
Melalui kolaborasi tersebut, mahasiswa Kukerta FISIP Berdampak UNRI bersama TP-PKK berhasil menunjukkan bahwa pengelolaan limbah organik tidak hanya berdampak pada pelestarian lingkungan, tetapi juga mampu memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan nilai ekonomi masyarakat melalui pengembangan produk UMKM berbasis urban farming.***

