Bagikan Artikel

whatapps facebook twitter telegram

Kadiskes Riau Edukasi Maba Unri Bahaya HIV

01 Agustus 2026 12:38:36 WIB Eka INFO PUBLIK

PEKANBARU – Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Zulkifli, mengingatkan mahasiswa baru Universitas Riau (Unri) agar meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran Human Immunodeficiency Virus (HIV) dengan menerapkan gaya hidup sehat dan menghindari perilaku berisiko. Pesan tersebut disampaikannya saat memberikan edukasi pada penutupan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Unri, Sabtu (1/8/2026). 

Dalam paparannya, Zulkifli menjelaskan bahwa HIV merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia secara perlahan. Jika tidak ditangani, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS), yaitu kondisi ketika daya tahan tubuh sangat lemah sehingga berbagai bakteri dan penyakit mudah menyerang.

"HIV adalah virus yang menyerang kekebalan tubuh kita. Virus ini terus menyerang sistem imun sehingga tubuh menjadi lemah. Ketika berkembang menjadi AIDS, kekebalan tubuh sudah sangat rendah sehingga berbagai bakteri dan penyakit sangat mudah masuk ke dalam tubuh," ujar Zulkifli.

Ia mengatakan hingga kini belum ada obat yang dapat menyembuhkan HIV secara total. Oleh karena itu, upaya pencegahan menjadi langkah paling efektif untuk menekan penyebaran virus tersebut.

Zulkifli mengungkapkan Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam pengendalian HIV. Secara global, Indonesia berada di peringkat ke-11 dengan jumlah kasus HIV terbanyak, sedangkan di kawasan Asia Tenggara menempati peringkat pertama.

Di Provinsi Riau sendiri, tercatat sekitar 11.700 orang hidup dengan HIV, dengan jumlah terbanyak berada di Kota Pekanbaru. Kasus tersebut juga lebih banyak ditemukan pada kelompok usia produktif.

"Di Riau ada sekitar 11.700 orang yang menderita HIV dan mayoritas berada di Pekanbaru. Kasus ini banyak ditemukan pada usia produktif. Karena itu kami punya kepentingan untuk terus memberikan edukasi kepada masyarakat, termasuk mahasiswa baru," katanya.

Ia menjelaskan penularan HIV dapat terjadi melalui transfusi darah yang tidak aman, penggunaan jarum suntik secara bergantian, penularan dari ibu kepada bayi melalui kehamilan, persalinan, maupun pemberian ASI, serta melalui hubungan seksual berisiko.

Menurutnya, transfusi darah di Indonesia relatif aman karena darah yang digunakan telah melalui proses skrining oleh PMI. Namun, penggunaan jarum suntik secara bergantian, terutama pada penyalahgunaan narkoba, masih menjadi salah satu faktor risiko yang perlu diwaspadai.

"Kalau transfusi darah yang dilakukan secara resmi sudah melalui proses skrining oleh PMI. Yang berbahaya adalah penggunaan jarum suntik secara sembarangan, termasuk pada penyalahgunaan narkoba. Penularan juga bisa terjadi dari ibu ke anak, serta melalui hubungan seksual berisiko, baik heteroseksual maupun sesama jenis. Saat ini, kasus yang cukup tinggi berasal dari hubungan sesama jenis laki-laki," jelasnya.

Di akhir penyampaiannya, Zulkifli mengajak seluruh mahasiswa baru untuk menjaga diri dengan menghindari seks bebas, tidak menggunakan narkoba, serta tidak memakai jarum suntik secara bergantian sebagai upaya mencegah penularan HIV.

"Hindari seks bebas, jauhi narkoba, dan jangan menggunakan jarum suntik secara bergantian. Itu adalah langkah sederhana tetapi sangat penting untuk mencegah penyebaran HIV," tutupnya.***