Bagikan Artikel

whatapps facebook twitter telegram

Tak Hanya Paru-paru, Asap Karhutla Juga Ganggu Perkembangan Otak Anak

29 Agustus 2026 08:50:50 WIB Eka INFO PUBLIK

PEKANBARU – Bahaya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ternyata tidak hanya mengancam kesehatan paru-paru. Paparan polusi udara, terutama partikel halus PM2.5, juga menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi perkembangan otak anak.

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam talk show kesehatan yang digelar Universitas Abdurrab dalam rangka Milad ke-32 Yayasan Abdurrab, Jumat (28/8/2026), di Susiana Tabrani Convention Hall.

Talk show menghadirkan tiga narasumber dari Fakultas Kedokteran Universitas Abdurrab, yakni Dr. dr. Uly Astuti Siregar, M.Biomed, dr. Feriandri Utomo, M.Biomed, serta dr. Nur Afrainin Syah, M.Med.Ed., PhD, Sp.KKLP, Subsp. FOMC.

Salah satu isu yang mendapat perhatian khusus disampaikan dr. Feriandri Utomo melalui paparannya bertajuk “Di Balik Asap Karhutla Riau: Kerusakan Otak yang Tak Pernah Dirisaukan.”

Feriandri menjelaskan, partikel polusi berukuran sangat kecil seperti PM2.5 selama ini lebih sering dikaitkan dengan gangguan pernapasan. Namun, sejumlah penelitian eksperimental juga menunjukkan adanya kemungkinan partikel polusi memengaruhi sistem saraf dan mencapai jaringan otak.

“Anak-anak adalah sasaran yang paling rentan. Sistem penangkalnya belum matang dan mereka bernapas lebih cepat, sehingga dosis polutan yang masuk juga bisa lebih banyak,” kata Feriandri.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena masa kanak-kanak merupakan periode penting bagi perkembangan otak. Paparan polusi udara yang terjadi berulang kali berpotensi berkaitan dengan perubahan pada perkembangan dan fungsi otak.

Dampaknya tidak selalu muncul dalam bentuk gangguan kesehatan yang langsung terlihat. Paparan polusi dalam jangka panjang, kata Feriandri, menjadi perhatian dalam kaitannya dengan kemampuan konsentrasi, proses belajar hingga perilaku anak.

“Kalau anak terpapar asap, kita perlu waspada terhadap dampaknya terhadap perkembangan otak, termasuk masalah konsentrasi dan perilaku,” ujarnya.

Ia mencontohkan kondisi kualitas udara di Pekanbaru yang pernah mencapai tingkat sangat buruk saat karhutla besar pada 2019. Ketika karhutla kembali terjadi, kualitas udara di sejumlah wilayah Riau juga dapat berada pada level yang tidak sehat.

Feriandri menjelaskan, salah satu mekanisme yang menjadi perhatian dalam penelitian mengenai dampak polusi terhadap otak adalah stres oksidatif. Partikel polusi dapat memicu terbentuknya radikal bebas yang berpotensi memberikan tekanan terhadap sel tubuh.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa hubungan antara paparan polusi udara dan gangguan neurologis jangka panjang masih membutuhkan penelitian lebih mendalam. Karena itu, pemantauan kesehatan anak di wilayah yang berulang kali terdampak karhutla dinilai penting.

“Karhutla harus diakui sebagai bencana kesehatan, bukan sekadar bencana lingkungan,” tegasnya.

Sementara itu, Dr. dr. Uly Astuti Siregar mengingatkan bahwa asap karhutla didominasi partikel halus PM2.5 yang ukurannya sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.

“Sebanyak 80 sampai 90 persen asap didominasi PM2.5. Partikel ini menyerang langsung paru-paru dan dapat mengganggu sistem pernapasan,” jelas Uly.

Ia mengatakan, dampak paparan asap juga tidak selalu langsung dirasakan. Paparan berulang dalam jangka panjang perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan.

Karena itu, perlindungan terhadap anak saat kualitas udara memburuk menjadi penting. Aktivitas di luar ruangan perlu dikurangi dan kondisi kualitas udara harus dipantau sebelum anak beraktivitas di luar rumah maupun sekolah.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Abdurrab, dr. Nur Afrainin Syah, juga mengingatkan bahwa anak termasuk kelompok yang rentan terhadap dampak kabut asap, bersama lansia, ibu hamil, penderita asma, PPOK, serta masyarakat dengan penyakit kronis.

Ia mengimbau masyarakat tidak mengabaikan kondisi udara dan segera mengurangi paparan ketika kualitas udara memburuk.

“Cek kualitas udara, kurangi paparan, dan jangan abaikan gejala,” pesannya.

Menurut para narasumber, perlindungan anak dari paparan asap tidak cukup hanya dilakukan ketika kabut asap sudah pekat. Pencegahan karhutla dan pengendalian kualitas udara harus menjadi bagian dari upaya melindungi kesehatan masyarakat dalam jangka panjang.

Talk show tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa dampak karhutla dapat menjangkau lebih jauh dari sekadar gangguan pernapasan. Bagi anak-anak, paparan polusi udara berulang menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian serius karena berlangsung pada fase penting pertumbuhan dan perkembangan otak.***