PEKANBARU – Kebiasaan menunda pekerjaan ternyata bukan semata-mata karena seseorang malas atau tidak memiliki disiplin. Ada proses di dalam otak yang membuat seseorang cenderung menghindari tugas ketika pekerjaan tersebut dianggap membosankan, berat, atau tidak menyenangkan.
Profesor psikologi di Carleton University, Ottawa, Kanada, Timothy A. Pychyl, PhD, menjelaskan bahwa kebiasaan menunda berkaitan dengan pertarungan antara sistem limbik dan korteks prefrontal di dalam otak.
Sistem limbik bekerja secara otomatis untuk mencari rasa nyaman dan kesenangan. Sementara korteks prefrontal berperan dalam membantu seseorang merencanakan sesuatu, memproses informasi, dan mengambil keputusan.
"Ini adalah bagian otak yang benar-benar membedakan manusia dari hewan, yang hanya dikendalikan oleh rangsangan," kata Pychyl.
Menurutnya, sistem limbik dapat lebih dominan ketika seseorang berhadapan dengan pekerjaan yang tidak menyenangkan. Akibatnya, otak mendorong seseorang mencari aktivitas lain yang memberikan rasa nyaman secara cepat.
Kondisi tersebut membuat seseorang merasa lebih baik setelah menghindari pekerjaan, meski hanya sementara. Inilah yang kemudian dapat membentuk pola menunda secara berulang.
Direktur penelitian dan inovasi di Brown University Mindfulness Center, Judson Brewer, MD, PhD, mengatakan kebiasaan manusia pada dasarnya terbentuk melalui pola pemicu, perilaku, dan penghargaan.
"Siklus kebiasaan standarnya adalah pemicu, perilaku, penghargaan. Ini dirancang untuk bertahan hidup," ujar Brewer.
Dalam kasus menunda pekerjaan, tugas yang dianggap tidak menyenangkan menjadi pemicu. Perilaku menghindar kemudian memberikan penghargaan berupa rasa lega sesaat.
"Karena pemicunya tidak menyenangkan, perilaku menghindar membuat ketidaknyamanan itu hilang sementara dengan kelegaan sesaat yang kemudian justru memperpanjang siklus penundaan," katanya.
Brewer mengatakan salah satu cara untuk memutus kebiasaan tersebut adalah meningkatkan kesadaran terhadap apa yang dirasakan ketika keinginan untuk menunda muncul.
Rasa bosan, cemas, atau tidak nyaman tidak harus langsung diikuti dengan menghindari pekerjaan. Seseorang dapat mengamati perasaan tersebut dan mencoba mengubah responsnya dengan rasa ingin tahu.
"Pikiran kita belajar melalui pembelajaran berbasis penghargaan. Ironisnya, kesadaran penuh justru memanfaatkan proses berbasis penghargaan itu untuk membantu kita keluar darinya," ungkap Brewer.
Ia menyarankan agar seseorang mulai bekerja dengan mengurangi gangguan, termasuk mematikan notifikasi atau menyenyapkan ponsel. Fokus juga sebaiknya diarahkan pada satu pekerjaan, bukan mengerjakan banyak hal sekaligus.
Setelah pekerjaan selesai, seseorang dianjurkan memperhatikan perasaan yang muncul. Rasa puas setelah menyelesaikan tugas dapat menjadi pengalaman positif yang membantu otak membangun pola baru.
"Lalu, perhatikan saja bagaimana rasanya saat kamu menyelesaikannya. Rasanya luar biasa. Gunakan kesadaran penuh untuk membantu otak kita mendapatkan informasi tersebut, baik saat kita sedang menunda-nunda maupun saat kita sedang produktif," tutur Brewer.
Dengan demikian, melawan kebiasaan menunda bukan hanya soal memaksa diri untuk bekerja. Mengenali pemicu, memahami respons emosional, serta merasakan kepuasan setelah menyelesaikan pekerjaan dapat menjadi bagian dari proses melatih otak agar tidak terus terjebak dalam siklus penundaan.***

