PEKANBARU — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Pekanbaru mulai menunjukkan dampak serius terhadap kesehatan masyarakat. Pemerintah Kota Pekanbaru mencatat lebih dari 10.000 warga telah mengalami gangguan kesehatan yang berkaitan dengan paparan asap.
Wakil Wali Kota Pekanbaru Markarius Anwar mengatakan, gangguan kesehatan yang dialami warga di antaranya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), asma, iritasi mata hingga pneumonia.
"Yang sudah terpapar sampai hari ini sudah lebih 10.000 orang ya yang terkait dengan asap ini; asma, ISPA, iritasi, pneumonia," kata Markarius, Rabu (7/10/2026).
Jumlah kasus baru juga masih bertambah. Pada 7 Oktober 2026, tercatat sebanyak 374 pasien yang mengalami gangguan kesehatan dan berkaitan dengan kondisi kabut asap.
"Yang tertinggi kemarin 7 Oktober itu, pasien kita terkait dengan hal ini 374," ujarnya.
Kondisi tersebut sejalan dengan memburuknya kualitas udara di Pekanbaru. Markarius menyebut tiga parameter kualitas udara yang dipantau menunjukkan kondisi sangat tidak sehat. Bahkan, pada sekitar pukul 13.00 WIB, kualitas udara sempat menyentuh level berbahaya.
Meningkatnya dampak kesehatan akibat paparan asap tersebut turut menjadi pertimbangan Pemko Pekanbaru untuk memperpanjang pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi siswa jenjang PAUD hingga SMP hingga Sabtu (10/10/2026).
Pemko Pekanbaru selanjutnya akan melakukan evaluasi pada Minggu (11/10/2026). Keputusan mengenai kegiatan pembelajaran tatap muka akan mempertimbangkan perkembangan kualitas udara.
BMKG juga memprediksi adanya potensi hujan pada Sabtu (10/10/2026). Hujan diharapkan dapat membantu memperbaiki kualitas udara di Pekanbaru sehingga aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan belajar mengajar, dapat kembali berlangsung normal.
"Jadi PJJ ini sampai hari Sabtu dulu, nanti hari Minggu kita akan evaluasi kembali," pungkas Markarius.***

